Posisi kamu di : Depan arrow Kumpulan_berita arrow Lain-lain arrow Cerita : Jangan Panggil Saya “Ukhti”

Pencarian



Yang sedang Online

We have 42 guests online
Cerita : Jangan Panggil Saya “Ukhti”

 Sebuah cerita dari pengalaman pribadi sesorang wanita yang enggan di sebut atau di panggil dengan sebutan :

“Ukhti”

 

Jangan Panggil Saya “Ukhti”

PROLOG

Sungguh, jangan panggil saya “ukhti” atau memberi saya sebutan “akhwat”. Walau saya mengerti bahwa itu hanyalah kata bahasa arab biasa, yang berarti wanita atau pria. Tapi kini panggilan itu mengalami generalisasi makna menjadi aktivis dakwah. Ah, terlalu berat sebutan itu untuk saya sandang. Saya merasa masih terlalu hijau, merasa belum melakukan apa-apa, dan masih banyak dosa.Belum terlalu pantas untuk dicontoh. Ah, dakwah. Kata yang begitu indah. Begitu luas. Begitu suci.

Bukankah dakwah tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas pengajian, keputrian, dan hal-hal lain sejenis itu yang hanya melibatkan sekelompok /komunitas tertentu yang menganggap dirinya eksklusif dan paling benar?

Sebenarnya, akhwat atau pun ikhwan, hanyalah kata bahasa arab biasa. Yang berarti wanita atau pria.

Apakah justru kata-kata itulah yang membuat dakwah tidak berjalan dengan lancar?

Apakah justru, kata itulah yang telah mempersulit dakwah?

Apakah justru, kata itulah yang membuat dikotomi sesama umat Islam?

Apakah justru dengan kata-kata itu sudah terjadi pembedaan?

Apakah justru, akan mudah mengakibatkan perpecahan umat?


…………………………………………………………………………………………..

Saya lahir di keluarga dengan basic agama yang cukup kental. Abah, ayah saya, lahir dan menghabiskan masa kecilnya di lingkungan pesantren. Orangtua saya pun membesarkan saya dengan bekal agama yang tidak sedikit, walau saya bersekolah di sekolah umum. Saya tetap mengikuti TPA di dekat rumah, kajian-kajian Islam, hingga masuk ke dalam organisasi remaja masjid sejak SMP. Walaupun masa kecil saya bisa dibilang cukup tomboy dengan hobi basket dan main musik, tapi saya tidak melupakan kodrat saya. Saya berjilbab sejak berumur 13 tahun dan alhamdulillah konsisten hingga saat ini. Sejak berjilbab pun aktivitas saya justru makin luas, bahkan bisa ikut lomba tilawah, hadrah, samroh, dan pramuka. Organisasi sekolah seperti OSIS, teater, dan KIR juga saya ikuti.

Termasuk organisasi “para akhwat dan ikhwan”, yang sebenarnya orangtua saya tidak terlalu setuju saya mengikuti organisasi itu karena mengkhawatirkan saya mungkin akan menjadi “ekstrim”. Saya menceritakan bagian ini sebagai pendahuluan agar anda tidak menganggap saya mengarang cerita,  karena dulu saya benar-benar pernah masuk ke dalam komunitas-komunitas tersebut.

Hingga akhirnya saya menyadari suatu hal. Banyak hal. Bahkan kurang pantas untuk disebutkan disini. Saat itu saya merasa bahwa bukan visi-misi organisasinya yang salah, tapi hanya “oknum”nya yang kurang bisa menempatkan diri. Ya, karakter tiap orang memang beragam, tapi saya mengamati karakter dominan dari para akhwat dan ikhwan ini adalah : merasa paling benar dan paling tahu tentang urusan agama.

Ya, saya merasa ada atmosfer kesombongan di dalam diri mereka. Menyombongkan keimanan. Merasa bangga saat dipanggil “akhi” atau “ukhti”, bahkan membanding-bandingkan ilmu agamanya dengan orang-orang lain. Saya  ingat cerita seorang teman yang disebut “akhi”:

—-“Banyak akhwat yang aku kenal. Dulu saat aku masih senang dengan cara jahiliah, yaitu mengetes akhwat. Banyak akhwat yang sering aku telepon. Dan banyak juga, akhwat yang dengan nada santai tetapi benar-benar menghanyutkan. Bicaranya santun, tetapi topik pembicaraannya tidak pantas untuk dibicarakan oleh seorang akhwat apalagi kader dakwah. Ada lagi seorang akhwat yang tergesa-gesa menjelaskan sesuatu masalah, lebih-lebih lagi si akhwat memposisikan dirinya sebagai orang yang paling tahu dan paling beriman. Ada juga akhwat yang menjelaskan agama Islam, tetapi si akhwat menjelaskannya layaknya seorang marketing. Sungguh memang benar-benar lucu. Dan kadang pula menjengkelkan dengan para akhwat yang sok suci dan sok yang paling tahu itu.”—

Olala…. Miris mendengarnya, tapi ingin tertawa juga. Tidak menyangka pandangan para “akhi” itu masih begitu remehnya. Padahal mengakunya sebagai muslim sejati. Mengetes akhwat? Seorang muslim sejati tidak akan memposisikan dia sebagai orang yang paling pintar dan beriman, seorang muslim sejati tidak akan memberi sebuah penjelasan layaknya seorang marketing produk. Hihihi…, mengajak orang dengan “paksaan tak kentara” itu namanya. Padahal Islam adalah agama perbuatan, maka perbuatanlah yang akan mencontohkan muslim yang baik atau muslim yang buruk. Ya, perbuatan atau sikap, dan sikap adalah sesuatu yang tidak bisa ditutupi dengan kalimat-kalimat manis berkedok cerita-cerita religius. Cerita-cerita seperti itupun sudah bisa dihafal oleh adek-adek yang masih TK, tapi sikap dewasa dan bijak akan langsung terlihat tanpa perlu membahanakan kereligiusan seseorang kan?

Ah, saya mulai jengah berada dalam komunitas seperti itu. Kukira saya akan mendapatkan ketenangan batin dengan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti itu. Tapi sepertinya saya tidak nyaman dengan sikap sok eksklusif dan merasa paling benar itu. Seolah-olah tidak terjamah dosa. Dan melihat orang diluar komunitasnya adalah orang-orang “kafir” yang perlu diluruskan.

Hai, bagaimana mungkin menilai muslim lain sebagai “orang tidak beriman” hanya karena rambut bercat merah? Atau merasa dirinya lebih beriman hanya karena jilbabnya lebih lebar? Atau merasa dirinya lebih beriman hanya karena celananya lebih pendek dan jenggotnya lebih panjang?

Yang saya pahami, manusia tidak sedikitpun berhak menilai kadar keimanan.

Bukankah kadar keimanan adalah RAHASIA yang hanya bisa dinilai oleh Allah? Manusia terlalu kecil dan bodoh untuk menilai kadar keimanan-keimanan orang lain. Bahkan merasa bangga dengan kadar keimanan yang dimilikinya.

Kejadian-kejadian itu tidak hanya saya  temui saat berada di sekolah menengah saja, bahkan di lingkungan kampus pun demikian. Saya tidak akan menyebutkan organisasi apa, dengan penampilan seperti apa,…tapi saya tidak menyukai sikap sok eksklusif itu.

Jangan panggil saya “ukhti” atau memberi sebutan “akhwat”. Bukan karena saya tidak senang dipanggil dengan bahasa arab atau sebutan yang mencerminkan keislaman. Sungguh, bukan seperti itu.

Saya hanya takut sombong.

Saya takut sombong.

Saya takut sombong.

Jadi untuk siapapun yang biasanya memanggil saya “ukhti”, mohon hentikan.

Sejak dulu, saya memegang wujud “kadar keimanan” dalam dua hal : hablum minallah dan hablum minannas. Keduanya jelas saling berkaitan dan saling mendukung. Tapi bentuk dukungannya jelas bukan dengan membawa-bawa hubungan dengan Tuhan dalam hubungan dengan sesama manusia sehari-hari, alias pamer ibadah, hehehe…, bahkan membicarakan pahala-pahalanya dengan orang lain. Semua orang yang mendengarkan justru akan menertawakan dalam hati. Wallahu ‘alam.

Jangan panggil saya “ukhti”, cukup dengan nama saja.  Bukankah nama Annisa’ sudah cukup menunjukkan kebanggaan saya dengan nama terindah yang diberikan oleh keluarga tercinta yang mengenalkan saya pada Islam sejak saya lahir? Ya, jangan panggil saya “ukhti”, kecuali kita sedang sama-sama berada di Arab, hehe…

Saya manusia biasa, sama seperti anda, sama seperti mereka. Saya mungkin tidak lebih beriman daripada anda, tapi saya akan berusaha menjadi manusia baik dan bermanfaat untuk Islam.

Saya mungkin tidak memiliki pengetahuan seluas anda, tapi saya akan berusaha dan belajar untuk bisa tahu banyak hal.

Saya tidak akan segan mengatakan pada anda,”saya mungkin salah, mohon koreksi”, “ajari saya”, ataupun “beritahu saya”, karena saya manusia biasa, sangat biasa, bukan komunitas eksklusif  manapun. Dan saya sepenuhnya menyerahkan penilaian keimanan saya kepada Allah, bukan kepada siapapun yang menilai kadar keimanan seseorang hanya dari penampilan luar.

Karena saya manusia biasa yang sama sekali tidak eksklusif,sama seperti anda, dan masih harus banyak belajar. Jadi panggil saya “Annisa”, cukup itu saja.

Nice article

 
< Prev   Next >

Kata Mutiara

Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh di tepi jalan. Dilempar buahnya dengan batu, tetapi tetap dibalas dengan buah
 

Komentar

***************

eXTReMe Tracker